DBD Meningkat di Tengah Perubahan Iklim, Pakar Ungkap Fakta Baru

DBD meningkat di tengah cuaca ekstrem, pakar ingatkan pentingnya pencegahan sejak dini.

Diterbitkan 23 Juni 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, mendorong penguatan upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD) melalui vaksinasi pada anak dan orang dewasa.

Langkah ini dinilai penting di tengah meningkatnya risiko penularan akibat perubahan iklim dan fenomena El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga akhir 2026. Dia menjelaskan bahwa kenaikan suhu global turut memengaruhi perilaku nyamuk penyebab dengue.

"Ketika suhu meningkat, nyamuk menjadi lebih sering mengisap darah. Jika biasanya setiap lima hari, pada suhu lebih tinggi bisa menjadi setiap dua hari. Ini meningkatkan risiko penularan dengue," ujarnya dikutip dari Antara pada Senin (22/6/2026)

Menurut Sukamto, perubahan iklim juga mengubah pola hidup nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor dengue. Kondisi kering saat El Nino mendorong masyarakat menyimpan air di berbagai wadah, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Dia menegaskan bahwa DBD tidak hanya menyerang anak-anak tapi juga orang dewasa. Data PAPDI menunjukkan lebih dari separuh kasus terjadi pada kelompok usia dewasa, terutama usia produktif 15 s.d 44 tahun.

"Orang dewasa tidak kebal dengue. Mereka justru kelompok usia produktif yang menjadi tulang punggung keluarga, sehingga dampak sakitnya dirasakan luas," katanya.

Sukamto juga mengingatkan bahwa dengue pada orang dewasa dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada pasien dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, asma, dan PPOK.

Hingga kini, kata Sukamto, pengobatan dengue masih bersifat suportif, sehingga pencegahan menjadi kunci utama.

 

Anak-Anak Kelompok Paling Rentan

Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), menegaskan anak-anak tetap menjadi kelompok paling rentan.

"Hampir 48 persen kasus terjadi pada anak di bawah 14 tahun, dan kelompok usia 5–14 tahun menjadi penyumbang kematian tertinggi akibat dengue," ujarnya.

Hartono menjelaskan bahwa virus dengue memiliki empat serotipe, sehingga seseorang yang pernah terinfeksi masih bisa tertular kembali dengan serotipe berbeda dan berisiko mengalami gejala lebih berat. Dia juga mengingatkan kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat saat memasuki fase kritis.

Oleh sebab itu, PAPDI dan IDAI menilai vaksinasi perlu menjadi bagian dari strategi pencegahan komprehensif, bersama pemberantasan sarang nyamuk, penerapan 3M Plus, serta edukasi masyarakat.

Sukamto, menambahkan, vaksin dengue yang telah direkomendasikan dalam jadwal imunisasi dewasa PAPDI sejak 2025 terbukti secara ilmiah dapat menurunkan risiko dengue berat dan kebutuhan rawat inap.