Masuk Angin Jadi Perbincangan Ahli Kesehatan Mental Dunia

Fenomena "masuk angin" dari Indonesia menjadi sorotan ahli kesehatan mental dunia.

Diterbitkan 24 Juni 2026, 16:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Istilah 'masuk angin' yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia ternyata menarik perhatian para ahli kesehatan mental dari berbagai negara. Topik ini menjadi salah satu pembahasan dalam 13th Annual Scientific Conference of the European Association for Psychosomatic Medicine (EAPM) 2026 yang berlangsung di Florence, Italia.

Pembahasan tersebut disampaikan oleh psikiater Indonesia, dr. Andri, SpKJ, FAPM, dari EMC Hospital Alam Sutera dalam sesi Clinical Case Presentations 2. Melalui presentasi berjudul "Cultural Somatization and Health Anxiety in Indonesia: A Clinical Case Experience of Multisystem Psychosomatic Presentations in an Asian Population", dia mengangkat fenomena bagaimana kecemasan dan gangguan psikologis sering kali diekspresikan melalui keluhan fisik pada masyarakat Indonesia.

Menurut Andri, banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan dengan berbagai keluhan fisik tanpa menyadari bahwa gejala tersebut berkaitan dengan kecemasan. Keluhan yang sering muncul antara lain sensasi mengganjal di tenggorokan, nyeri dada, jantung berdebar, pusing, hingga gangguan lambung.

"Dalam praktik sehari-hari di Indonesia, pasien jarang mengatakan bahwa mereka sedang cemas. Mereka lebih sering mengatakan bahwa asam lambungnya naik ke kepala, terkena masuk angin, atau mengalami gangguan fisik tertentu," kata Andri dalam keterangan resmi yang diterima Kesehatan Liputan6.com pada Rabu (24/6/2026) 

Lebih lanjut, Andri, menjelaskan,"Gejala yang mereka rasakan nyata tapi interpretasi terhadap gejala tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya."

Penjelasan tersebut menarik perhatian peserta konferensi dari berbagai negara. Istilah khas Indonesia seperti "masuk angin", "asam lambung naik ke kepala", dan keyakinan bahwa "cuaca panas menyebabkan stroke" dinilai sebagai contoh nyata idioms of distress, yakni cara suatu budaya mengekspresikan penderitaan psikologis atau emosional melalui bahasa dan keluhan fisik yang mudah dipahami masyarakat setempat.

 

Bagaimana Para Pakar Meresponsnya

Diskusi semakin berkembang ketika peserta dari Amerika Serikat, Jerman, Israel, dan sejumlah negara Eropa lainnya membandingkan fenomena tersebut dengan pengalaman klinis mereka. Banyak yang mengakui bahwa pola serupa juga ditemukan pada pasien keturunan Asia yang tinggal di negara-negara Barat.

Menurut mereka, kata Andri, pasien Asia cenderung lebih nyaman mengungkapkan ketidaknyamanan melalui keluhan fisik dibandingkan menyampaikan kecemasan atau tekanan emosional secara langsung.

Keluhan gastrointestinal, nyeri tubuh, sensasi tidak nyaman di berbagai bagian tubuh, hingga gangguan kardiovaskular sering kali muncul lebih dulu sebelum aspek psikologis teridentifikasi.

"Banyak kolega dari luar negeri yang menyampaikan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan, pada pasien Asia yang telah lama tinggal di Eropa atau Amerika, pola ekspresi emosional melalui gejala fisik masih sangat terlihat," ujarnya.

"Ini menunjukkan bahwa faktor budaya memiliki pengaruh yang kuat dalam cara seseorang mengalami dan mengkomunikasikan penderitaan psikologis," tambahnya.

Para peserta juga sepakat bahwa pendekatan yang sensitif terhadap budaya semakin penting dalam praktik psikiatri dan psikosomatik modern.

Memahami explanatory model atau cara pasien menjelaskan penyakitnya sendiri dinilai dapat membantu tenaga kesehatan membangun hubungan terapeutik yang lebih baik sekaligus meningkatkan keberhasilan terapi.