Menopause pada Pria Kerap Diabaikan, Gejalanya Bisa Muncul Perlahan

Menopause pada pria sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa memengaruhi energi dan kesehatan.

Diterbitkan 02 Juni 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menopause pada pria atau yang dikenal sebagai andropause sering kali luput dari perhatian. Berbeda dengan menopause pada perempuan yang terjadi secara lebih jelas, andropause muncul secara bertahap dan kerap tidak disadari oleh penderitanya.

Dokter spesialis urologi dan praktisi kesehatan pria, dr. Wempy Supit, SpU, FACS, mengatakan perubahan hormon dan stres kronis dapat memengaruhi kualitas hidup pria. Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang kehilangan energi, mengalami penurunan fokus, hingga berkurangnya rasa percaya diri.

Dia menjelaskan banyak pria datang dengan keluhan cepat lelah, sulit fokus, kualitas tidur menurun. Tidak sedikit juga yang mengalami perubahan fisik seperti peningkatan lemak tubuh, penurunan massa otot, sampai kerontokan rambut akibat stres dan perubahan hormonal.

"Ini kondisi yang nyata dan perlu mendapat perhatian," ujar Wempy dikutip dari Antara pada Selasa, 2 Juni 2026.

Menurutnya, berbagai keluhan tersebut dapat menjadi bagian dari penurunan hormon testosteron yang terjadi seiring bertambahnya usia. 

Fenomena menopause pada pria kini semakin banyak ditemukan pada usia produktif. Gaya hidup modern yang penuh tekanan, kurang istirahat, pola makan tidak seimbang, serta tingginya tuntutan pekerjaan diduga menjadi faktor yang mempercepat munculnya berbagai gejala.

Seiring bertambahnya usia, kadar testosteron dalam tubuh pria cenderung menurun. Penurunan hormon ini tidak hanya berdampak pada energi dan suasana hati, tapi juga memengaruhi metabolisme tubuh. Akibatnya, massa otot berkurang, lemak tubuh meningkat, dan risiko penyakit metabolik seperti diabetes ikut bertambah.

Oleh sebab itu, menjaga massa otot tidak lagi hanya berkaitan dengan penampilan fisik. Massa otot yang baik berperan penting dalam menjaga kesehatan hormonal, metabolisme, energi, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Sementara itu, dokter spesialis dermatologi dan venereologi lulusan Universitas Indonesia, dr. Arini Astasari Widodo, Sp.DVE, FINSDV, mengingatkan bahwa kondisi rambut dan kulit juga dapat menjadi indikator kesehatan tubuh.

"Ketika seseorang mengalami stres kronis, kualitas tidur buruk, atau ketidakseimbangan hormon, tubuh sering memberikan sinyal melalui perubahan kondisi kulit dan rambut. Karena itu, perawatan rambut hari ini bukan lagi sekadar estetika, tetapi juga bagian dari keseluruhan kebugaran," kata Arini.

Dia menambahkan pendekatan kesehatan modern kini tidak hanya berfokus pada penampilan. Banyak orang datang berkonsultasi karena merasa tubuh mereka tidak lagi bekerja secara optimal.