Bukan soal Orang Ketiga, Kondisi Ini Bisa Picu Keretakan Rumah Tangga

Gray divorce atau perceraian di usia menopause bisa dipicu masalah seksual akibat disfungsi otot dasar panggul.

Diterbitkan 18 Juni 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pelvic Floor Dysfunction (PFD) adalah kondisi ketika otot dasar panggul tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Otot ini memegang peran penting dalam mengatur keluarnya urine, feses, hingga fungsi seksual.

Bahkan, dokter spesialis kebidanan dan kandungan, Ni Komang Yeni Dhana Sari, mengatakan bahwa PFD bisa menjadi salah satu alasan retaknya hubungan rumah tangga hingga perceraian.

“Memang PFD itu terlihat belum terlalu familiar, kalau ditarik lagi apakah bisa menyebabkan kejadian perceraian? Itu adalah salah satunya,” kata dokter yang akrab disapa Yeni kepada Kesehatan Liputan6.com dalam temu media bersama Bamed di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Dia menambahkan, kerap ada istilah Gray Divorce atau perceraian di usia perimenopause dan menopause.

“PFD ini juga banyak mengalami divorce (perceraian), memang karena adanya gangguan hubungan seksual,” tambahnya.

Dia menguraikan, akibat tidak bisa menahan buang air kecil, perempuan kerap pergi ke toilet di tengah hubungan badan. Sementara, suami yang ereksi tidak sabar menunggu. Sedangkan jika dilanjutkan maka bisa ngompol di tempat sehingga istrinya tidak enak hati.

“Hal-hal seperti itu yang akhirnya menyebabkan rasa percaya diri yang rendah pada istri. Belum lagi masalah kekeringan pada vagina, kurangnya lubrikasi, nyeri saat hubungan, itu juga menyebabkan enggan untuk melakukan hubungan seksual.”

“Nah dari sana memang betul banyak terjadi gray divorce di usia-usia perimenopause dan menopause di mana PFD banyak terjadi. Ada peran PFD ini untuk terjadi perceraian atau mengganggu ketidakharmonisan dalam hubungan suami istri,” ujarnya.

50 Persen Perempuan Dewasa Mengalami PFD

Sebelumnya Yeni menyampaikan, hampir 50 persen perempuan dewasa mengalami Pelvic Floor Dysfunction (PFD) dalam hidupnya.

Pelvic Floor adalah otot dasar panggul yang memiliki peran penting dalam mengatur kandung kemih, usus, rahim, dan lain-lain. Gangguan atau disfungsi yang terjadi pada otot ini disebut Pelvic Floor Dysfunction (PFD).

“Dengan otot dasar panggul kita bisa berdiri tegak, kita juga bisa berfungsi secara baik saat berkemih, buang air besar, dan saat hubungan seksual,” kata Yeni.

Seperti namanya, otot ini berada di dasar panggul. Dalam kondisi normal, otot memiliki bentuk rata. Namun, karena aktivitas, kemampuan, dan proses-proses yang terjadi pada tubuh, maka otot ini bisa seperti hammock atau melengkung ke bawah. Sehingga, tidak bisa lagi menopang beberapa fungsi seperti menahan kencing, kentut, dan buang air besar.

“Batuk, loncat, ketawa, jadi keluar sedikit urinenya. Enggak bisa nahan kentut, buang air besar juga kalau ada diare mungkin agak sulit menahan. Belum lagi fungsi seksual, bisa memicu vaginismus (kontraksi berlebih pada otot vagina),” jelasnya.

Penyebab PFD

Yeni pun menyebutkan beberapa penyebab PFD, yakni:

  • Kehamilan
  • Persalinan pervaginam yang tidak dijaga dengan baik
  • Obesitas
  • Meningkatnya tekanan abdomen
  • Kadar estrogen
  • Operasi daerah pelvis.

“Disfungsi dasar panggul bukan sekadar jadi masalah klinis tapi lebih ke arah krisis kesehatan global yang memengaruhi jutaan perempuan setiap hari tapi masih kurang mendapat perhatian,” jelas Yeni.

Dia menambahkan, banyak kasus yang tidak terdiagnosis dan menganggap bahwa itu adalah satu hal yang wajar.

“Seperti kita lihat ada artis senior kita, pelawak, kalau dia ketawa terus ngompol-ngompol dan dianggap lucu. Padahal itu suatu penyakit, seharusnya kita obati,” ujar Yeni.

PFD perlu ditangani karena dapat memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas perempuan ditambah dampak pada kesehatan mental yang tak boleh diabaikan. Kondisi ini dapat memicu rasa malu bahkan tidak percaya diri di hadapan suami.