Perimenopause Bisa Jadi Awal Masalah Jantung pada Perempuan

Perimenopause bisa jadi awal risiko jantung pada perempuan, simak temuan dokter!

Diterbitkan 22 Mei 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian nomor satu pada perempuan di seluruh dunia. Namun sayangnya, banyak perempuan belum menyadari bahwa risiko tersebut ternyata bisa mulai meningkat saat memasuki fase perimenopause.

Menurut data Federasi Jantung Sedunia (WHF), penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama pada perempuan di dunia dan menyumbang sekitar 30 persen dari total kematian.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of the American Heart Association menemukan bahwa perempuan pada fase perimenopause memiliki risiko dua kali lebih tinggi mengalami kesehatan jantung yang buruk dibanding perempuan pramenopause, seperti dikutip dari Medical News Today pada Jumat, 22 Mei 2026. 

Apa definisi dari perimenopause? Perimenopause adalah masa transisi sebelum menopause, biasanya terjadi di usia akhir 40-an hingga awal 50-an. Pada fase ini, hormon estrogen mulai menurun.

Dalam studi yang melibatkan lebih dari 9.200 perempuan, peneliti menemukan adanya penurunan skor kesehatan jantung berdasarkan indikator Life’s Essential 8 dari American Heart Association, terutama pada aspek pola makan.

Profesor penyakit kardiovaskular dari University of Alabama at Birmingham, dr. Garima Arora, mengatakan, selama ini risiko jantung pada perempuan sering terlambat diperhatikan.

"Penyakit jantung masih menjadi pembunuh utama perempuan, tapi penelitian dan penilaian risikonya masih banyak berbasis data laki-laki," ujarnya.

Dia menekankan bahwa perubahan risiko pada perempuan tidak bisa disamakan dengan laki-laki karena dipengaruhi hormon, kehamilan, dan fase kehidupan.

 

Perubahan Hormon Jadi Pemicu

Dokter jantung Jennifer Wong menjelaskan bahwa penurunan estrogen saat perimenopause memicu perubahan metabolik seperti naiknya resistensi insulin, kolesterol memburuk, dan penumpukan lemak perut.

"Estrogen berperan melindungi pembuluh darah. Saat menurun, risiko penyakit jantung ikut meningkat," katanya.

Penelitian juga menemukan bahwa pola makan menjadi aspek dengan skor paling rendah pada perempuan perimenopause. Oleh sebab itu, para ahli menilai perubahan gaya hidup menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung sejak dini.

Ahli gizi, Monique Richard, menyarankan perempuan tidak asal mengurangi makan saat memasuki masa perimenopause, tapi lebih fokus pada pola makan bergizi dan seimbang.

"Ini bukan waktunya makan lebih sedikit, tapi makan lebih strategis. Tubuh membutuhkan nutrisi untuk melewati perubahan hormon yang terjadi," ujar Monique.

Dia menyarankan perempuan memperbanyak konsumsi buah dan sayur berwarna, makanan tinggi omega-3 seperti salmon dan chia seed, protein yang cukup, makanan fermentasi, serta sumber kalsium dan vitamin D untuk menjaga kesehatan tulang dan jantung.

Selain itu, menjaga aktivitas fisik, tidur cukup, mengelola stres, dan rutin memeriksa kesehatan juga menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko penyakit jantung di masa depan.