Jangan Asal Minum Obat Kolesterol Usai Makan Daging Kurban

Konsumsi obat kolesterol perlu resep dokter. Sebelumnya pun ada pemeriksaan laboratorium untuk tahun tingkat kolesterol dalam tubuh.

Diterbitkan 29 Mei 2026, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setelah mengonsumsi daging kurban seperti kambing, domba ataupun sapi, sering kali leher bagian belakang hingga pundak merasakan pegal dan nyeri. Masyarakat awam kerap mengasosiasikan hal tersebut sebagai gejala kolesterol naik lalu makan obat penurun kolesterol tanpa resep dokter.

Terkait ini, dokter Dicky Aligheri Wartono, Sp.BTKV (K), FIHA, FICA mengatakan masyarakat tidak boleh makan obat penurun kolesterol sembarangan. Perlu melakukan pemeriksaan terlebih dulu ke dokter termasuk salah satunya menjalani pemeriksaan laboratorium.

"Kita enggak tahu itu, relatif dengan kondisi kita sebenarnya kan, kolesterol atau bukan, makanya dicek. Memang ciri-cirinya mengarah pada kolesterol tinggi, terlebih yang punya riwayat diabetes," kata Dicky yang praktik di Silloam Hospitals Lippo Village.

 

Dicky juga berpesan untuk mengonsumsi daging kurban terutama di momen seperti Idul Adha saat ini dengan bertanggung jawab. Termasuk cara mengolah yang sehat. 

"Daging domba ataupun kambing bukan penyebab faktor risiko meningkatnya kolesterol tapi perhatikan cara mengolah, misal dimasak dengan santan dengan waktu yang lama, mengonsumsi berlebihan dari batas harian atau mingguan, itu yang memicu kolesterol naik," ujarnya.

Kadar kolesterol bakal naik bila asupan serat berkurang. Bukan hanya kolesterol yang naik, kuerang serat juga menyebabkan susah buang air besar.

"Untuk itu makan yang sehat, sudah tahu kan makan sehat isinya apa saja. Dan jangan lupa berolahraga teratur, sesuai dengan kemampuan, kalau ada keluhan, cepat-cepat kontrol, kalau enggak mau, minimal rajin medical check up dulu," katanya.

 

Jangan Anggap Wajar Tensi 130/80

Dicky juga meminta masyarakat tidak menganggap wajar tekanan darah yang menyentuh di atas rata-rata normal. Sebab, bisa jadi itu awal dari penyakit metabolik lainnya yang tidak bisa dikontrol dikemudian hari.

"Maksudnya gini, kalau dulu ya orang tua dengan tensi 140, 130 enggak masalah, seharusnya enggak boleh," tegas Dicky.

Sebab, bila tinggi seperti itu, saat pasien terkena serangan jantung, sulit untuk ditolong. Kondisi itu bisa memengaruhi kesehatan jantung secara umum.

"Jadi, kalau bagusnya sih jangan terlalu banyak ya (garam). Orang dengan hipertensi, makan garam enggak terlalu banyak saja bisa naik tensinya," ujar Dicky.

Sehingga, diharapkan masyarakat tetap menjaga asupan makan garam, sekalipun itu pada takaran bumbu masak.