Pasien Kanker Sebaiknya Tak Vegan saat Terapi, Ini Alasannya

Selama terapi kanker, pola makan vegan dinilai berisiko, ini penjelasan dokter gizi klinik.

Diterbitkan 25 Mei 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter Gizi Klinik Subspesialis Nutrisi pada Kelainan Metabolisme Gizi di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MS, SpGK (K) mengingatkan bahwa pasien kanker yang sedang menjalani terapi sebaiknya tidak menerapkan pola makan vegan atau vegetarian secara ketat.

Pasien kanker justru membutuhkan asupan protein hewani lebih banyak selama menjalani pengobatan. "Kebutuhan proteinnya 1,2 sampai 1,5 gram dan sebaiknya 65 persen protein hewani. Jadi, jangan vegan, jangan vegetarian karena protein hewani ini kita butuhkan," kata Fiastuti dalam 'The 6th Siloam Oncology Summit' pada Minggu, 24 Mei 2026.

Saat menjalani terapi, tubuh pasien kanker mengalami proses inflamasi yang tinggi, penurunan massa otot, hingga peningkatan metabolisme yang membuat kebutuhan nutrisi meningkat drastis. Oleh sebab itu, asupan protein menjadi sangat penting guna menjaga massa otot dan mempercepat pemulihan tubuh selama terapi kanker berlangsung.

Apakah protein dapat melawan kanker? Fiastuti, menjelaskan, protein hewani memiliki kandungan asam amino esensial yang lebih lengkap dibandingkan protein nabati. Kandungan tersebut dibutuhkan tubuh untuk membantu sintesis protein dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak akibat kanker maupun efek samping terapi.

Dia, menambahkan, pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi, radioterapi, maupun terapi lain sering mengalami penurunan nafsu makan, mual, muntah, hingga kehilangan berat badan secara cepat.

Kondisi ini membuat pasien kanker rentan mengalami kaheksia, yaitu kondisi kehilangan massa otot dan berat badan yang sulit dipulihkan.

"Pada saat treatment, 85 persen mengalami weight loss. Efek dari treatment dan kemoterapi adalah mual, muntah, radiasi," tambahnya.

Secara umum, kebutuhan protein orang sehat berkisar 0,8 hingga 1,2 gram per kilogram berat badan per hari. Namun, pada pasien kanker, kebutuhan tersebut meningkat cukup signifikan.

 

Sumber Protein untuk Pasien Kanker

Lebih lanjut Fiastuti, menjelaskan, pasien kanker juga dianjurkan mengonsumsi sumber protein tinggi leucine seperti whey protein dan Branched-Chain Amino Acids (BCAAs) untuk membantu menjaga massa otot.

Selain itu, asupan omega-3 juga dinilai penting karena memiliki sifat antiinflamasi yang dapat membantu pasien kanker melawan proses peradangan di dalam tubuh. Dan, sumbernya pun tidak selalu harus berasal dari ikan mahal seperti salmon.

Menurutnya, ikan lokal seperti ikan kembung dan tongkol juga memiliki kandungan omega-3 yang cukup baik. "Jadi tidak harus ikan yang mahal," ujarnya.

Meski demikian, Fiastuti mengatakan bahwa anjuran mengonsumsi protein hewani lebih tinggi ini berlaku khusus selama pasien menjalani terapi kanker. Setelah kondisi pasien membaik dan terapi selesai, pola makan dapat kembali disesuaikan seperti orang sehat pada umumnya, termasuk memperbanyak protein nabati.

"Nanti kalau dia sudah melewati terapi, sudah sehat ya sama dengan orang normal. Boleh mengonsumsi protein nabati yang lebih banyak," katanya.

Dia juga mengingatkan pasien kanker sebaiknya tidak menjalani diet tertentu tanpa konsultasi dengan dokter atau ahli gizi klinik.

Sebab, pembatasan makanan yang terlalu ketat justru berisiko memperburuk kondisi malanutrisi pada pasien kanker.