Studi Baru Soroti Risiko Demensia Lebih Tinggi pada Perempuan

Studi terbaru ungkap perempuan lebih rentan demensia akibat faktor kesehatan yang sering dianggap sepele.

Diterbitkan 24 Mei 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perempuan ternyata memiliki risiko demensia lebih tinggi dibanding laki-laki. Tak hanya itu, sejumlah faktor yang umum terjadi juga diketahui memberi dampak lebih buruk terhadap fungsi otak perempuan.

Hal tersebut terungkap dalam studi terbaru dari University of California, San Diego School of Medicine yang dipublikasikan di jurnal Biology of Sex Differences, seperti dikutip dari Medical News Today pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Penelitian dilakukan terhadap lebih dari 17 ribu orang dewasa paruh baya dan lansia di Amerika Serikat. Para peneliti menganalisis 13 faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi, mulai dari depresi, hipertensi, diabetes, obesitas, kurang aktivitas fisik, gangguan tidur, hingga gangguan pendengaran.

Hasilnya, perempuan lebih banyak mengalami depresi, kurang bergerak, gangguan tidur, kolesterol tinggi, dan gangguan penglihatan. Namun, yang paling disorot peneliti adalah dampaknya terhadap kesehatan otak perempuan ternyata lebih besar dibanding laki-laki.

Kondisi seperti hipertensi, obesitas, diabetes, dan gangguan pendengaran diketahui berkaitan lebih kuat dengan penurunan fungsi kognitif pada perempuan.

"Beberapa faktor risiko tampaknya memiliki dampak yang lebih besar terhadap fungsi kognitif perempuan," kata penulis utama studi, Megan Fitzhugh.

Peneliti menyebut temuan ini dapat membantu menjelaskan mengapa perempuan mencakup hampir dua pertiga kasus Alzheimer’s disease di Amerika Serikat.

Selama ini, risiko demensia pada perempuan sering dikaitkan dengan usia harapan hidup yang lebih panjang. Namun, studi terbaru menunjukkan ada faktor lain yang ikut berperan, termasuk perubahan hormon, kesehatan metabolik, hingga faktor genetik.

Profesor ilmu saraf sekaligus penulis senior studi, Judy Pa mengatakan bahwa menopause juga diduga memengaruhi kesehatan otak perempuan.

"Ada perubahan biologis besar saat menopause, seperti perubahan tekanan darah, metabolisme glukosa, dan peradangan. Kami masih mempelajari bagaimana perubahan ini memengaruhi kesehatan otak," ujar Judy Pa.

 

 

Tekanan yang Bikin Perempuan Rentan Demensia

Selain faktor biologis, perempuan juga lebih sering menghadapi tekanan sebagai caregiver atau perawat anggota keluarga. Kondisi ini dapat memicu stres berkepanjangan yang berdampak pada kesehatan otak.

Peneliti menilai pencegahan demensia perlu dilakukan lebih personal, terutama pada perempuan dengan faktor risiko tertentu.

Menurut Judy Pa, menjaga kesehatan jantung menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi kesehatan otak.

"Jika sesuatu baik untuk jantung, maka itu juga baik untuk otak," katanya.

Oleh sebab itu, masyarakat disarankan rutin berolahraga, menjaga tekanan darah dan gula darah tetap stabil, tidur cukup, berhenti merokok, serta menjaga aktivitas sosial untuk membantu menurunkan risiko demensia sejak dini.