Dokter Nuklir Ungkap Bedanya PET-CT dan CT Scan untuk Kanker

Tak sekadar scan biasa, PET-CT disebut bisa bantu tentukan terapi kanker lebih tepat.

Diterbitkan 24 Mei 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Masih banyak orang mengira PET-CT dan CT scan adalah pemeriksaan yang sama untuk kanker. Padahal, keduanya memiliki fungsi berbeda, terutama dalam mendeteksi aktivitas sel kanker di dalam tubuh.

Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. Ivana Dewi Mulyanto, Sp.KN(K), FANMB menjelaskan bahwa CT scan hanya melihat struktur tubuh secara anatomi seperti bentuk, ukuran, dan lokasi tumor.

"Kalau CT scan itu kita nilainya hanya dari struktur. Jadi abnormalitas bentuk, ukuran, gambaran tepi, hanya itu saja secara anatomi," ujar Ivana dalam diskusi media 'The 6th Siloam Oncology Summit' pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Sementara PET-CT tidak hanya melihat bentuk tumor, tapi juga aktivitas metabolik sel kanker. Lewat teknologi ini, dokter bisa mengetahui apakah sel kanker masih aktif, seberapa agresif, hingga penyebarannya di dalam tubuh.

"Kita bisa lihat tumornya itu masih viable nggak, masih hidup nggak, ada di mana intensitas aktivitasnya," kata Ivana.

Perbedaan lain, PET-CT mampu melakukan pemindaian seluruh tubuh atau whole body imaging. Sedangkan CT scan biasanya hanya memeriksa bagian tubuh tertentu. "Kalau CT scan mungkin kepala-leher saja, thorax saja, abdomen saja. Tapi kalau PET-CT FDG itu bisa whole body," ujarnya.

Menurut Ivana, kemampuan ini membuat PET-CT lebih sensitif untuk mendeteksi penyebaran kanker, termasuk pada kanker darah seperti multiple myeloma dan limfoma.

PET-CT bahkan bisa menemukan aktivitas kanker sebelum muncul kerusakan organ atau tulang yang terlihat di CT scan. "Belum ada kerusakan, kalau ternyata ada aktivitas metabolik dari PET-nya, kita sudah bisa tegakkan diagnosis," ujarnya.

 

Bisa Tentukan Kemoterapi Cocok atau Tidak

PET-CT juga membantu dokter mengevaluasi efektivitas kemoterapi lebih cepat. Pemeriksaan ini bisa menunjukkan apakah pengobatan berhasil atau justru harus diganti.

Ivana menjelaskan bahwa pasien biasanya menjalani PET-CT sebelum kemoterapi sebagai baseline. Setelah dua siklus terapi, pasien bisa diperiksa ulang untuk melihat perubahan aktivitas kanker.

"Misalnya SUV awalnya 10, setelah dua siklus tinggal 2. Itu artinya responsnya sangat baik," kata Ivana.

Namun, jika aktivitas kanker justru meningkat, dokter bisa segera mengganti regimen terapi. "Kalau dari 10 jadi 20, berarti tidak cocok dan harus ganti regimen," tambahnya.

Dengan cara ini, pasien tidak perlu menjalani kemoterapi yang tidak efektif terlalu lama. Meski lebih sensitif, PET-CT FDG tidak cocok untuk semua jenis kanker. Pemilihan jenis PET scan harus disesuaikan dengan karakter kanker pasien.

Sebagai contoh, kanker prostat lebih tepat menggunakan PET-CT PSMA, bukan FDG. "Kadang ada yang mau PET scan kanker prostat tapi pakainya FDG, padahal harusnya PSMA," ujar Ivana.

Oleh sebab itu, pemeriksaan PET-CT harus ditentukan oleh dokter agar hasilnya lebih akurat dan sesuai kebutuhan pasien kanker.

Â