Liputan6.com, Jakarta - Inflammatory Bowel Disease atau IBD adalah penyakit inflamasi kronik pada saluran cerna yang mencakup penyakit Crohn, kolitis ulseratif, dan unclassified IBD (IBD-U). Secara sederhana, IBD disebut juga sebagai peradangan usus.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam - konsultan gastroenterohepatologi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, Rabbinu Rangga Pribadi, IBD dapat dipicu oleh dua kebiasaan sehari-hari yang dianggap sepele. Â
"Mengenai kebiasaan yang bisa menyebabkan IBD itu pertama merokok dan kedua makanan ultra proses," kata Rabbinu kepada Kesehatan Liputan6.com dalam peluncuran IBD Center di RSCM Kencana, Jakarta pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Advertisement
"Jadi, sekarang sudah banyak buktinya bahwa Ultra Processed Food (UPF) itu menimbulkan risiko untuk mengalami IBD. Di luar memicu masalah lain seperti risiko penyakit kardiovaskular dan lain-lain," tambahnya.
Menurutnya, dua kebiasaan ini kerap tidak disadari oleh masyarakat hingga akhirnya timbul IBD. Maka dari itu, edukasi dinilai penting.
"Untuk IBD sudah cukup jelas, dua kebiasaan ini mungkin enggak disadari oleh pasien-pasien tapi menjadi faktor risiko IBD. Jadi, kita biasanya edukasi pasien-pasien untuk setop rokok dan hindari makanan ultra proses untuk menunjang penyembuhannya," ujarnya.
Apa Makanan Pedas Picu IBD?
Di samping kebiasaan merokok dan makan makanan ultra proses, Rabbinu juga membahas soal kebiasaan makan makanan pedas. Menurutnya, kebiasaan ini lebih berkaitan pada kondisi lain yakni gastritis.
"Kalau makanan pedas lebih banyak ke gastritis. Tapi memang ada entitas IBD yang ada komponen gastritisnya. Jadi kalau yang seperti itu ya kita personalisasi, artinya kalau memang ada gastritis kita hindari makanan pedas," ujarnya.
Dia menilai, radang usus merupakan masalah yang unik karena tidak hanya dapat memengaruhi usus tapi juga bisa ke lambung.
"Radang usus tuh uniknya enggak cuma kena usus, beberapa kasus kena ke lambung juga atau yang kita sebut gastritis hingga muncul sakit maag. Tapi kalau sakit maag enggak melulu karena murni gastritis tapi bisa juga karena IBD ini," tambah Rabbinu.
Lebih Dalam Soal IBD
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/6696121/original/015324600_1779516285-Renan.jpeg)
Lebih dalam soal IBD, penyakit ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kerentanan genetik, gangguan mikrobiota usus, disregulasi sistem imun, hingga faktor lingkungan dan pola makan. IBD dapat menyerang siapa saja. Namun, paling sering ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 15 s.d 30 tahun.
Berdasarkan penelitian Asia-Pacific Crohn’s and Colitis Epidemiologic Study (ACCESS), angka kejadian IBD terus meningkat di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Insidensi IBD di Indonesia tercatat sebesar 0,77 per 100.000 penduduk per tahun.
Meski berbagai terapi telah tersedia, IBD tetap menjadi penyakit kronik dengan beban kesehatan yang signifikan karena memerlukan penanganan jangka panjang dan pemantauan berkelanjutan.
Di Indonesia, tantangan utama dalam penanganan IBD masih meliputi rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala penyakit, keterbatasan akses terhadap layanan dan tenaga ahli, serta keterlambatan diagnosis yang dapat meningkatkan risiko komplikasi dan biaya pengobatan.
"Ini melatarbelakangi RSCM Kencana untuk menghadirkan IBD Center sebagai pusat layanan terpadu mulai dari diagnosis, terapi, edukasi, dan pendampingan pasien IBD secara komprehensif," kata Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, dr. Renan Sukmawan, Sp.JP(K) dalam kesempatan yang sama.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5568076/original/025738900_1777349129-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-28T110443.057.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290480/original/063078400_1783482944-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-08T105431.346.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5696736/original/013814600_1778574800-cek_fakta_cpns_kemenhub.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488956/original/064020100_1769771942-pppk_bgn_-_klaim.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/6696119/original/098803500_1779516284-Rabbinu.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290534/original/015072300_1783484497-Switzerland_goalkeeper_Gregor_Kobel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290498/original/086362400_1783483404-Egypt_s_Mohamed_Salah__10__and_Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290421/original/027818600_1783480531-Argentina_s_Enzo_Fernandez.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290385/original/086691300_1783478548-Egypt_s_Mostafa_Zico__11__and_Egypt_s_Haissem_Hassan__12_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290384/original/064848900_1783478396-Argentina_s_Lionel_Messi_celebrates.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8306243/original/097675000_1782171964-000_B7XN2AD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312895/original/060240200_1782180154-000_B7XU3W8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259229/original/005106400_1781492480-AP26165671114272.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288987/original/029872300_1783373948-000_B9FD7P2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290285/original/019592500_1783448923-AP26188662265039.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290283/original/065124300_1783447708-063_2285092809.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6701148/original/024210700_1779520588-IBD.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483921/original/090364200_1769406958-Ahli_kesehatan_berbicara_mengenai_penyakit_IBD.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4688060/original/047355200_1702678436-WhatsApp_Image_2023-12-15_at_16.22.31.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6617209/original/027180000_1779449083-nia.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6690011/original/022981800_1779511004-ari.jpeg)
![[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: AS Lindungi Warganya dari Ebola](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/vD7oLbNjzRCVFbi0p9GqD_hhalY=/200x113/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5084731/original/098964500_1736341604-20250108-Tjandra_Yoga_Aditama-ANG_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4957646/original/053210700_1727777403-225e98c9-9581-4b37-9fdc-12ff2ec78732.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5102885/original/015198300_1737448573-1737446560468_arti-stunting.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379808/original/007262700_1760372626-IMG_5058-01.jpeg)