Dokter Ingatkan Gejala IBD yang Bisa Berujung Kanker Usus

Dokter ungkap gejala IBD yang sering dianggap sepele padahal bisa meningkatkan risiko kanker usus besar.

Diterbitkan 23 Mei 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Inflammatory Bowel Disease atau IBD adalah penyakit peradangan usus yang bisa berujung pada kanker. Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Gastroenterohepatologi, Ari Fahrial Syam, IBD yang berujung pada kanker masih kurang dari 10 persen.

Kanker usus semakin mungkin terjadi pada kasus IBD yang tidak ditangani dengan baik.

"Apabila tidak diobati dengan baik, kemudian pasiennya tidak aware terhadap penyakitnya, maka potensi untuk menjadi kanker bisa jadi lebih cepat," ujar Ari dalam peluncuran IBD Center di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Sayangnya, IBD kerap tak disadari karena gejalanya cenderung mirip dengan masalah pencernaan lainnya.

"Ini yang jadi masalah, gejalanya sama seperti orang diare pada umumnya. Oleh karena itu, pasien jika diare berulang lebih dari dua minggu, apalagi berat badan turun disertai buang air besar (BAB) berdarah itu harus dilakukan endoskopi dan kolonoskopi," ujar Ari.

Endoskopi dilakukan untuk melihat kondisi organ dalam pasien. Lebih spesifik lagi, kolonoskopi dilakukan untuk memeriksa bagian dalam dari usus besar dan rektum.

"Kolonoskopi ini yang akan memastikan apakah ini memang disebabkan oleh infeksi atau non infeksi. Jika fasilitas belum ada, cek lab dulu boleh tapi ujung-ujungnya harus dilakukan kolonoskopi lagi agar diagnosisnya diketahui," tambahnya.

Apa yang menyebabkan IBD? Lebih lanjut dijelaskan bahwa IBD disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kerentanan genetik, gangguan mikrobiota usus, disregulasi sistem imun, hingga faktor lingkungan dan pola makan.

IBD dapat menyerang siapa saja. Namun, paling sering ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 15 hingga 30 tahun.

Berdasarkan penelitian Asia-Pacific Crohn’s and Colitis Epidemiologic Study (ACCESS), angka kejadian IBD terus meningkat di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Insidensi IBD di Indonesia tercatat sebesar 0,77 per 100 ribu penduduk per tahun.

Meski berbagai terapi telah tersedia, IBD tetap menjadi penyakit kronik dengan beban kesehatan yang signifikan karena memerlukan penanganan jangka panjang dan pemantauan berkelanjutan.

Di Indonesia, tantangan utama dalam penanganan IBD masih meliputi rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala penyakit, keterbatasan akses terhadap layanan dan tenaga ahli, serta keterlambatan diagnosis yang dapat meningkatkan risiko komplikasi dan biaya pengobatan.

Mencegah Kanker pada Pasien IBD

Guna mencegah IBD berujung pada kanker, Ari menyarankan untuk berobat teratur dan menjaga pola makan. "Karena memang 60 persen dari pasien IBD ini akan mengalami kekurangan gizi karena dia ada diare terus, nafsu makan juga menurun. Oleh karena itu, nutrisi harus menjadi perhatian. Pasien harus tetap mengonsumsi makanan," ujarnya.

Ari mewanti-wanti, pasien IBD juga perlu menghindari beberapa jenis makanan terutama yang sulit dicerna seperti:

  • Coklat
  • Keju
  • Makanan berlemak
  • Makanan yang diawetkan.

"Ini harus dihindari oleh pasien-pasien IBD. Biasanya dengan kondisi makanan yang baik, berobat teratur, kontrol teratur, mudah-mudahan pasien tidak akan jatuh ke dalam kanker usus besar. Gaya hidup juga perlu diubah jadi lebih sehat, termasuk tidak minum alkohol dan tidak merokok," pungkasnya.