Lansia Kena Osteoartritis, Hindari Jongkok dan Duduk Bersila Terlalu Lama

Penanganan osteoartritis harus komprehensif, pasien perlu tahu hal-hal yang perlu dihindari saat lutut sakit.

Diterbitkan 30 Mei 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kelompok lanjut usia (lansia) kerap mengeluh nyeri sendi akibat osteoartritis. Ini adalah radang sendi yang dipicu kerusakan pada tulang rawan akibat penggunaan seumur hidup. 

Menurut dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi Novaria Puspita dari RS EMC Sentul, pasien osteoartritis perlu tahu cara memperlakukan sendinya.

“Osteoartritis itu (penanganannya) harus komprehensif. Jadi, pasien paham dengan sakitnya, paham dengan penyakitnya dan tahu bagaimana memperlakukan sendinya,” kata Novaria dalam Healthy Monday bersama Liputan6.com, Senin, 25 Mei 2026.

Contohnya, jika ada radang sendi atau sendinya sedang sakit, maka jangan naik turun tangga. Hal sepele lain yang perlu dihindari ketika radang sendi adalah terlalu sering duduk bersila apalagi dalam durasi yang lama.

“Kemudian jongkok, aktivitas-ativitas yang menuntut pasien tersebut jongkok ya sebaiknya dihindari,” tambahnya.

Selain itu, Novaria juga menganjurkan penggunaan alas kaki. Pasalnya, tekanan pada sendi tidak hanya datang dari atas atau beban tubuh tapi juga dari bawah.

“Jadi penggunaan alas kakinya kalau bisa indoor dan outdoor ya, sepatu atau sandal yang empuk, yang ada solnya, bukan sepatu yang datar atau high heels,” saran Novaria.

Pasien Obesitas Mesti Turunkan Berat Badan

Pasien osteoartritis juga disarankan untuk menurunkan berat badan supaya tekanan pada sendi tidak terlalu berat.

“Modifikasi berat badan, rata-rata pasiennya memang lebih ke obesitas,” ujar Novaria.

Dia bercerita, sebagian pasien kerap merasa tidak mampu untuk menurunkan berat badan hingga puluhan kilogram. Maka dari itu, ia selalu memberi motivasi bahwa penurunan satu kilogram pun akan sangat berarti.

“Berita baiknya, menurunkan satu kilo berat badan saja dapat mengurangi tiga sampai empat tekanan ke lutut. Jadi di riset-riset itu, nurunin tiga sampai lima kilo saja itu sudah memberikan pengaruh yang sangat positif untuk pasien.”

“Kalau pasien bisa nurunin lagi hingga berat badan normal, itu lebih bagus lagi,” pungkasnya.