Bukan Lagi Awet Muda, Kemenkes Ungkap Cara Pandang Baru soal Penuaan

Kemenkes ungkap konsep baru penuaan tak lagi soal awet muda, tapi fungsi tubuh yang tetap optimal dan aktif.

Diterbitkan 30 Mei 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyoroti adanya pergeseran besar dalam cara masyarakat memandang penuaan. Konsep functional longevity kini mulai menggantikan pandangan lama yang hanya berfokus pada penampilan muda, dan lebih menekankan pada kemampuan tubuh untuk tetap berfungsi optimal seiring bertambahnya usia.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi mengatakan bahwa keberhasilan hidup panjang tidak lagi diukur dari wajah yang terlihat muda, tapi dari kemampuan tubuh untuk tetap berfungsi optimal.

"Status sosial kini bergeser, bukan lagi soal tampilan, tapi apa yang tubuh bisa lakukan," kata Imran dikutip dari Antara pada Jumat, 29 Mei 2026.

Menurutnya, perubahan ini berdampak luas, mulai dari pola latihan individu, program kesejahteraan perusahaan, hingga kebijakan dan desain ruang publik yang mendukung kemandirian lansia.

Dia juga menyoroti meningkatnya penggunaan istilah kesehatan seperti VO2 max, inflamasi, kesehatan metabolik, hingga usia biologis dalam percakapan sehari-hari.

"Dulu istilah ini hanya ada di laboratorium, sekarang sudah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari ketika orang menilai kondisi kesehatannya," katanya.

Selain itu, konsep capacity aging juga mulai diterapkan, yaitu perencanaan kesehatan yang tidak hanya fokus pada usia muda, tapi juga kebutuhan tubuh di usia 70 s.d 80 tahun.

Imbasnya, aspek seperti kualitas tidur, massa otot, keseimbangan, dan pola makan kini dianggap sebagai investasi kesehatan jangka panjang.

Di sisi layanan kesehatan, pendekatan juga bergeser dari sekadar mengobati penyakit menjadi pengukuran fungsi tubuh secara menyeluruh.

Imran, menjelaskan, ketika usia biologis dapat diukur dan dipengaruhi, penuaan tidak lagi dianggap tak terhindarkan, tapi bisa diperlambat melalui intervensi yang tepat.

Bagi individu, hal ini berarti perubahan gaya hidup, termasuk latihan kekuatan, menjaga mobilitas, memperbaiki kualitas tidur, dan pola makan yang mendukung metabolisme.

Sementara itu, perusahaan diminta menyesuaikan program kesejahteraan dengan fokus pada kapasitas kerja jangka panjang, bukan hanya kesehatan jangka pendek.

Pemerintah dan perancang kota juga didorong menyediakan ruang publik yang ramah lansia, dengan akses yang aman dan mendukung aktivitas fisik.

Kemenkes, menilai, dengan berkembangnya konsep functional longevity, hidup sehat dan panjang kini bukan lagi sekadar idealisme, tapi target yang bisa dicapai secara nyata.