4 Pantangan Pasien IBD, Ada Makanan Favorit Banyak Orang

Pasien IBD perlu waspada, beberapa makanan ini ternyata dapat memicu radang usus kambuh.

Diterbitkan 24 Mei 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Gastroenterohepatologi, Ari Fahrial Syam mengungkapkan empat jenis makanan yang sebaiknya dihindari pasien Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau peradangan usus.

Mulai dari coklat, keju, makanan berlemak, dan makanan yang diawetkan. "Ini harus dihindari oleh pasien-pasien IBD," kata Ari kepada Kesehatan Liputan6.com dalam peluncuran IBD Center di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, Jakarta pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Beberapa jenis masakan juga dapat memicu kekambuhan pada pasien IBD tertentu.  "Ada beberapa kasus yang makan gudeg bisa kambuh atau makan rendang kambuh, sate yang item-itemnya, jadi beberapa pasien memang ada makanan-makanan tertentu yang memicu kekambuhan," tambahnya.

Senada dengan Ari, Dokter Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Gastroenterohepatologi, Rabbinu Rangga Pribadi, juga menyampaikan bahwa IBD dapat dipicu oleh kebiasaan mengonsumsi makanan ultra proses.

"Sekarang sudah banyak buktinya bahwa Ultra Processed Food (UPF) itu menimbulkan risiko untuk mengalami IBD. Di luar memicu masalah lain seperti risiko penyakit kardiovaskular dan lain-lain," tambahnya.

Di samping kebiasaan makan makanan ultra proses, Rabbinu juga membahas soal kebiasaan makan makanan pedas. Menurutnya, kebiasaan ini lebih berkaitan pada kondisi lain yakni gastritis atau peradangan pada dinding lambung.

"Kalau makanan pedas lebih banyak ke gastritis. Tapi memang ada entitas IBD yang ada komponen gastritisnya. Jadi kalau yang seperti itu ya kita personalisasi, artinya kalau memang ada gastritis kita hindari makanan pedas," tambahnya.

Dia menilai bahwa radang usus merupakan masalah yang unik karena tidak hanya dapat memengaruhi usus tapi juga bisa ke lambung.

"Radang usus tuh uniknya enggak cuma kena usus, beberapa kasus kena ke lambung juga atau yang kita sebut gastritis hingga muncul sakit maag. Tapi kalau sakit maag enggak melulu karena murni gastritis tapi bisa juga karena IBD ini," ujar Rabbinu.

Mulai Jaga Pola Makan

Guna mencegah IBD lebih parah, Ari menyarankan pasien untuk selalu menjaga pola makan. Pasalnya, IBD yang tidak dikelola dengan baik bisa berujung pada kanker usus.

“Biasanya dengan kondisi makanan yang baik, berobat teratur, kontrol teratur, mudah-mudahan pasien tidak akan jatuh ke dalam kanker usus besar. Gaya hidup juga perlu diubah jadi lebih sehat, termasuk tidak minum alkohol dan tidak merokok,” saran Ari.

Sebelumnya, dijelaskan bahwa IBD adalah penyakit inflamasi kronik pada saluran cerna yang mencakup penyakit Crohn, kolitis ulseratif, dan unclassified IBD (IBD-U). Secara sederhana, IBD disebut juga sebagai peradangan usus.

Penyakit ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kerentanan genetik, gangguan mikrobiota usus, disregulasi sistem imun, hingga faktor lingkungan dan pola makan. IBD dapat menyerang siapa saja, namun paling sering ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 15–30 tahun.

Berdasarkan penelitian Asia-Pacific Crohn’s and Colitis Epidemiologic Study (ACCESS), angka kejadian IBD terus meningkat di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Insidensi IBD di Indonesia tercatat sebesar 0,77 per 100.000 penduduk per tahun. Meski berbagai terapi telah tersedia, IBD tetap menjadi penyakit kronik dengan beban kesehatan yang signifikan karena memerlukan penanganan jangka panjang dan pemantauan berkelanjutan.

Di Indonesia, tantangan utama dalam penanganan IBD masih meliputi rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala penyakit, keterbatasan akses terhadap layanan dan tenaga ahli, serta keterlambatan diagnosis yang dapat meningkatkan risiko komplikasi dan biaya pengobatan.