Hipertensi Tak Boleh Disepelekan, Risiko Stroke hingga Kepikunan Mengintai

Hipertensi jadi pemicu utama stroke yang merupakan penyebab terbanyak kematian di Indonesia.

Diterbitkan 21 Mei 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa kematian akibat stroke di Indonesia pada 2021 mencapai 140,8 per 100.000 orang. Artinya, stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Disusul dengan penyakit jantung iskemik dengan prevalensi sebesar 90,4 per 100.000 orang. Hipertensi menjadi faktor risiko utama untuk keduanya. Ironisnya, hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala, sehingga dikenal sebagai silent killer atau pembunuh senyap.

Di Indonesia, sekitar 1 dari 3 orang dewasa hidup dengan hipertensi, tapi banyak yang tidak menyadarinya sampai komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, atau gagal ginjal terjadi. Kondisi ini menjadikan hipertensi bukan sekadar masalah kesehatan individu, tetapi juga tantangan kesehatan masyarakat.

Selain risiko kesehatan, stroke juga membawa dampak ekonomi yang sangat besar. Biaya rawat inap, rehabilitasi, obat-obatan, serta potensi kehilangan produktivitas dapat menjadi beban finansial berat bagi keluarga Indonesia, terutama jika dibandingkan dengan rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, mencegah selalu jauh lebih ringan dibanding menanggung konsekuensi pengobatan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggaungkan kampanye CERDIK, yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Selain menjaga pola hidup yang sehat, salah satu cara mencegah stroke adalah dengan melakukan pengecekan tekanan darah secara rutin di rumah. Pengukuran tekanan darah di rumah dengan alat yang tervalidasi klinis menjadi langkah sederhana, praktis, dan penting agar masyarakat dapat memantau kondisi kesehatannya secara konsisten.

"Hipertensi sering tidak bergejala, tetapi dampaknya bisa sangat serius, termasuk komplikasi stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, kebutaan dan kepikunan,” kata Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), Eka Harmeiwaty dalam temu media bersama Omron di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Dokter spesialis saraf itu menambahkan, pengukuran tekanan darah yang benar dan akurat sangat penting dalam membuat diagnosa hipertensi.

“Dan pengukuran secara mandiri di rumah sangat dianjurkan untuk memonitor hasil pengobatan. Disarankan untuk menggunakan alat pengukur tekanan darah yang sudah tervalidasi klinis dan dapat dikalibrasi ulang,” ujarnya.

Komplikasi Hipertensi

Eka menambahkan, salah satu komplikasi yang sering ditemukan dengan hipertensi adalah gangguan irama jantung Fibrilasi Atrium (Atrial Fibrilation AF). Pasien hipertensi dengan AF berisiko tinggi untuk terkena stroke dan gagal jantung. Dengan demikian deteksi AF pada pasien hipertensi penting untuk dilakukan.

Selain AF, hipertensi juga berkaitan dengan masalah ginjal. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan tren mengkhawatirkan, proporsi pasien usia 25-34 tahun yang harus menjalani hemodialisis (cuci darah) adalah 31,4 persen dari yang menderita Penyakit Ginjal Kronis (PGK).

Hipertensi adalah salah satu penyebab utama dari PGK. Kondisi ini menunjukkan pentingnya deteksi dini hipertensi dan pemantauan kesehatan secara rutin, termasuk tekanan darah, sejak usia muda.

Cek Tekanan Darah Sejak Usia 18

Lebih lanjut, Eka mengatakan bahwa mencegah hipertensi dengan cek tekanan darah sebaiknya dilakukan sejak usia 18 tahun.

“Harusnya cek tekanan darah sejak usia 18 tahun,” kata Eka.

Bukan tanpa alasan, rajin mengecek tekanan darah sejak usia muda penting dilakukan lantaran hipertensi adalah silent killer alias pembunuh senyap. Artinya, penyakit kerap muncul tanpa gejala yang disadari. Gejala mulai terasa jika penyakit sudah terjadi lama sekitar 10 tahun.

“Kita anjurkan di usia 18 karena gejala hipertensi lamban, nggak (hari ini) hipertensi langsung ada gejala. Gejala sedikit-sedikit, biasanya 10 tahun baru muncul gejala,” kata Eka.

Sementara, cek tekanan darah di usia lebih muda biasanya dilakukan pada orang-orang dengan faktor risiko tertentu, misalnya masalah ginjal yang memicu kenaikan tekanan darah. Di usia 40, cek tekanan darah rutin cenderung menjadi sebuah keharusan.

“Kalau udah 40 tahun ke atas, harus diukur. Pasalnya, ada 50 juta kasus hipertensi di Indonesia dan yang terkontrol tidak sampai 6 persen, sehingga angka komplikasinya tinggi.”

Eka menambahkan, hipertensi tidak boleh diremehkan karena bisa memicu stroke, gangguan irama jantung, kerusakan pada retina, disfungsi seksual, dan pikun.

“Jadi, harus ukur tekanan darah secara teratur,” saran Eka.

Ukur Tensi di Rumah Harus dengan Cara yang Benar

Eka menambahkan, mengukur tensi di rumah harus dengan cara yang tepat. Dari posisi duduk, pasien perlu duduk bersandar.

“Karena kalau tidak bersandar bisa naik 10-15, kaki tidak bersilang, tidak boleh ngobrol, dan dilakukan sebelum makan, minum obat, dan beraktivitas,” kata Eka.

Bagi pemula, darah sebaiknya diukur tiga kali dan angka yang diambil adalah dua hasil pengukuran terakhir. Hasilnya ditambahkan lalu dibagi dua.

“Saat mengukur, jangan sambil lihat angkanya, bisa stres.”

Pengukuran sebaiknya dilakukan pada pagi dan malam sebelum tidur. Dan yang terpenting, angka darah normal di rumah berbeda dengan pengukuran di klinik.

“Kalau di rumah bukan 140/90 tapi 135/85,” ujar Eka.